
BANK Indonesia Solo mencatat peredaran uang kartal di masyarakat di wilayah eks Karesidenan Surakarta atau Solo Raya pada Desember 2025 mencapai Rp 1,04 triliun. Jumlah tersebut turun signifikan sebesar 26,5 persen atau bila dibulatkan sebesar 7 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada Desember 2024 yang tercatat sebesar Rp 1,42 triliun.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Solo, Pramudya Wicaksana mengemukakan penurunan peredaran uang kartal itu tercermin dari transaksi penarikan uang kartal oleh perbankan ke Bank Indonesia atau outflow.
“Penarikan uang kartal bank ke Bank Indonesia pada Desember 2025 tercatat sebesar Rp 1,04 triliun, menurun 26,5 persen dibandingkan Desember 2024,” kata Pramudya saat dihubungi melalui ponselnya, Senin, 12 Januari 2026.
Selain transaksi penarikan, penyetoran uang kartal dari perbankan ke Bank Indonesia atau inflow juga menunjukkan tren penurunan. Pada Desember 2025, inflow tercatat sebesar Rp 758 miliar. Angka tersebut turun sekitar 17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 913 miliar.
Pramudya menjelaskan, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi menurunnya peredaran uang kartal di wilayah Solo dan sekitarnya. Salah satu faktor utama adalah perubahan perilaku masyarakat dalam merespons kondisi ekonomi. Menurut dia, masyarakat kini cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, terutama di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi ke depan.
“Perilaku masyarakat yang lebih berhati-hati ini ditunjukkan dengan kecenderungan meningkatkan simpanan sebagai langkah antisipatif atau motif berjaga-jaga,” ujarnya.
Pramudya menyebut kondisi tersebut berimbas pada menurunnya kebutuhan uang tunai untuk transaksi sehari-hari. Faktor lain yang turut berpengaruh berasal dari sisi perbankan.
“Sejumlah bank saat ini telah memiliki pusat pengolahan uang secara mandiri. Dengan adanya fasilitas tersebut, bank dapat memenuhi kebutuhan likuiditas uang kartal secara internal tanpa harus secara intensif melakukan setoran maupun penarikan uang ke Bank Indonesia,” tuturnya.
Selain itu, relatif terbatasnya aktivitas proyek pemerintah berskala besar di wilayah Kota Solo juga berdampak pada moderasi aktivitas ekonomi. Minimnya proyek-proyek besar tersebut berpengaruh terhadap perputaran uang kartal di masyarakat, terutama yang biasanya terkait dengan pembayaran upah tenaga kerja dan belanja proyek secara tunai.
“Bank Indonesia Solo akan terus memantau perkembangan kebutuhan uang kartal di masyarakat serta memastikan ketersediaan uang tunai tetap terjaga sesuai kebutuhan, terutama menjelang periode tertentu yang berpotensi meningkatkan permintaan uang kartal,” katanya.
Pilihan Editor: Dari Mana Pemerintah Cari Duit Menutup Defisit Anggaran





