
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja manufaktur Indonesia mulai merangkak naik. Laporan S&P Global memperlihatkan data Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 50,0 pada Mei 2026 dari bulan sebelumnya yang berada di level 49,1.
Investment Specialist Bahana Sekuritas Yazid Muamar mengatakan kenaikan PMI Manufaktur dari zona kontraksi ke zona ekspansi merupakan sinyal awal yang sangat positif bagi prospek kinerja emiten, khususnya di sektor riil dan manufaktur.
“Namun, kenaikan ini tidak serta-merta langsung mendongkrak laba bersih emiten seketika, melainkan ada proses transmisi dan beberapa faktor risiko yang perlu dicermati,” kata Yazid kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).
Meski Kinerja Tersendat pada Kuartal I, Prospek AADI pada Tahun 2026 Masih Menarik
Di tengah penguatan data tersebut, ada beberapa sektor yang menarik untuk dicermati. Pertama, sektor otomotif dan komponen. Sektor ini biasanya menjadi yang paling cepat merasakan dampak atau sebagai penerima manfaat awal.
Peningkatan aktivitas pabrik umumnya berjalan linear dengan kenaikan volume penjualan kendaraan dan utilisasi kapasitas produksi emiten seperti ASII, IMAS, VKTR.
Kedua, sektor barang konsumsi, Emiten seperti ICBP, INDF dan MYOR ikut diuntungkan karena ekspansi manufaktur biasanya mencerminkan daya beli domestik yang mulai kokoh.
Ketiga, sektor logistik dan bahan baku. Peningkatan aktivitas pabrik otomatis menaikkan kebutuhan distribusi barang dan permintaan bahan baku penolong. Emiten seperti ASSA, SMDR, TMAS berpotensi diuntungkan.
“Kinerja saham bisa terpengaruh karena laporan keuangan emiten berpotensi membaik,” tambah Yazid.
Secara terpisah, Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menyampaikan meskipun PMI Manufaktur kembali berada di level netral 50,0 pada Mei 2026, emiten masih berpotensi menghadapi peningkatan beban operasional. Kondisi tersebut dipicu oleh tingginya biaya impor bahan baku dan barang modal seiring pelemahan nilai tukar rupiah.
“Strategi terbaik untuk sektor manufaktur saat ini adalah trading jangka pendek memanfaatkan pantulan teknikal singkat, atau wait and see jika trennya masih turun tajam,” jelas Ike kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).
Ike bilang emiten yang bisa menjadi daftar pantauan pelaku pasar saat ini ialah ICBP dan SMSM.
Dari sisi fundamental, SMSM berhasil membukukan margin laba bersih yang stabil tinggi. Hal ini salah satunya karena porsi ekspor mereka yang masif menembus 70% ke lebih dari 100 negara global.
Adapun ICBP memiliki arus kas operasional yang tebal serta kontribusi pendapatan valuta asing yang kuat dari anak usahanya.
Sementara itu, Yazid memilih ASII untuk menjadi pilihan rekomendasi saham dengan target harga jangka panjang di posisi Rp 7.300 per saham.
IHSG Berpotensi Lanjut Melemah pada Kamis (4/6), Simak Proyeksinya





