Ada banyak nasihat tentang investasi saham yang beredar di luar sana. Para investor pasar saham punya keyakinan kalau pasar saham itu bisa dipelajari dan diprediksi. Yap, manusia memang berlomba-lomba untuk menghasilkan uang dan mencari keuntungan, salah satunya lewat pasar saham. Namun, setiap beberapa dekade, semuanya akan runtuh dan menimbulkan kekacauan besar.
Gampang saja, sih, untuk mencemooh para trader. Namun, pasar saham itu sendiri juga terkait erat dengan ekonomi riil, sebagaimana yang dijelaskan Economics Observatory. Jadi, ketika angka-angka yang terasa imajiner itu mulai berkedip merah dan anjlok, ia akan membawa masa depan banyak orang di kehidupan nyata.
Kejatuhan investasi sendiri menjadi ciri krisis ekonomi sejak manusia mulai bertaruh pada masa depan. Yap, lewat semua itu, ada fakta yang terbukti benar dalam sejarah krisis pasar saham, yaitu tragedi. Suatu aset bisa bernilai sesuai dengan harga jualnya, tapi terkadang aset itu tidak bernilai sama sekali. Apa saja, ya?
1. Jatuhnya harga bunga tulip di Belanda
Bunga tulip sangat erat kaitannya dengan Belanda. Pasti kamu terkejut kalau ternyata, bunga ini bukanlah tanaman asli kerajaan kecil yang berair itu. Tulip berasal dari pegunungan Asia Tengah, dari sana kemudian sampai ke Bizantium di Abad Pertengahan dan menjadi salah satu hal yang menyenangkan bagi Kekaisaran Ottoman saat mereka menaklukkan sisa-sisa kekuasaan Bizantium. Jadi, ketika Belanda menjadi kaya setelah merdeka dari Spanyol (Belanda unggul berkat pernikahan kerajaan dan Protestanisme), Belanda mulai membeli barang-barang mewah dari negara-negara yang jauh, seperti Turki.
Nah, karena terpesona oleh keindahan tulip dan keuntungan dari bunga itu sendiri, penduduk Belanda sempat tergila-gila untuk membeli dan menjual tulip. Dikutip Britannica, fenomena ini pun dikenal sebagai Tulip Mania. Banyak warga Belanda yang menginvestasikan semua yang mereka miliki ke bisnis bunga tulip. Mereka berharap bisa membeli umbi yang akan menghasilkan bunga bergaris yang harganya mahal. Ketika hal ini tidak terkendali, bubble itu pecah. Semua orang pun kehilangan uang mereka, karena runtuhnya harga pasar.
Namun, kisah ini dilebih-lebihkan. Runtuhnya harga tulip bukanlah peristiwa yang membuat semua warga Belanda miskin. Namun, peristiwa ini dilebih-lebihkan akibat propaganda Calvinis, yang bertujuan untuk menenangkan orang dan kembali berpegang teguh pada agama. Bahkan, tidak ada catatan tentang satu pun pedagang bunga tulip yang bangkrut di Belanda.
2. Seorang ekonom yang hampir membuat Prancis bangkrut
Raja Prancis Louis XIV menyukai selir, istana, dan perang. Sayangnya, semua itu harus dibayar dengan harga yang mahal. Jadi, ketika Louis XIV meninggal pada tahun 1715, Prancis hampir kehabisan uang.
Engelsberg Ideas menjelaskan bahwa ada seorang pedagang Skotlandia bernama John Law yang mendekati Philippe II, Adipati Orléans. Philippe II sendiri menjalankan pemerintahan untuk Louis XV yang masih muda. Yap, namanya akan digunakan untuk nama New Orleans.
Selama dua tahun berikutnya, John Law mendirikan sebuah bank untuk mulai mencetak dan mendistribusikan uang kertas. Ia juga mendirikan sebuah perusahaan untuk memonopoli perdagangan dengan Louisiana Prancis untuk pemerintah. Segera, perusahaan ini mengendalikan semua perdagangan luar negeri Prancis dan telah mengambil alih utang nasional Prancis.
Namun, dalam waktu tiga tahun, seluruh pengelolaan ekonomi dari kekuatan kolonial besar yang dikelola asing ini justru berujung malapetaka. Rupanya, John Law salah mengelola situasi dengan menilai saham terlalu tinggi dan mencetak terlalu banyak uang kertas. Akibatnya, pasar saham runtuh dalam sekejap akibat hiperinflasi dan penurunan nilai aset.
Pemerintah Prancis pun harus mengganti kerugian para investor yang marah untuk meredakan situasi. Jadi, niatnya yang mau memperbaiki anggaran nasional, justru harus mengeluarkan uang berlipat-lipat untuk ganti rugi. John Law sendiri melarikan diri dari Prancis, dan meninggal dalam keadaan miskin di Venesia beberapa tahun kemudian.
3. Amerika Serikat baru pertama kali mengesahkan undang-undang kepailitan pada tahun 1800
Berutang bukanlah suatu yang menyenangkan. Namun, dulunya jauh lebih buruk daripada sekarang. Sebab, debitur yang tidak mampu membayar utang bisa dipenjara atau telinganya dipotong. Juga, undang-undang tentang kepailitan pun tidak jauh lebih baik.
Undang-Undang Anne tahun 1705 di Inggris menetapkan hukuman mati untuk kepailitan yang curang. Namun, seiring dengan perkembangan dunia keuangan yang semakin kompleks, seperti semakin jelasnya pertumbuhan ekonomi di era inovasi dan kolonisasi, beberapa orang diizinkan untuk melepaskan diri dari tumpukan utangnya. Kok bisa?
Pada saat kemerdekaan, Amerika Serikat tidak memiliki hukum kepailitan. Adapun, kondisi negara yang baru berdiri itu sangat rentan dan menyebabkan kepanikan ekonomi. Nah, krisis ekonomi yang pertama terjadi pada tahun 1792 dan yang kedua pada tahun 1796, yang terakhir dipicu oleh spekulasi tanah dan penarikan dana besar-besaran di Inggris karena perang yang sedang berlangsung dengan Prancis, menurut United States Courts.
Bisnis-bisnis bangkrut di kota-kota besar Pantai Timur AS. Adapun, tokoh-tokoh revolusioner dan investor penting masuk penjara karena utang atau harus melarikan diri untuk menghindarinya. Dihadapkan pada prospek yang tidak menyenangkan untuk menghukum orang-orang yang telah membiayai revolusi, Amerika Serikat pun mengesahkan undang-undang kepailitan federal pertamanya pada tahun 1800. Selain itu, negara bagian dapat membuat undang-undang secara independen jika mereka mau. Undang-undang federal ini hanya berlaku hingga tahun 1803, dengan undang-undang sementara muncul kembali setelah krisis berikutnya. Undang-undang kepailitan permanen baru muncul pada tahun 1898.
4. Upaya manipulasi harga emas yang hampir menggagalkan Rekonstruksi
Apa kamu tahu tentang peristiwa Black Friday yang terjadi pada tahun 1869? Singkatnya gini, ada dua orang kaya bernama Jay Gould dan James Fisk. Namun, kekayaan yang mereka miliki tidak membuat mereka puas. Mereka pun ingin memperkaya diri dengan memanipulasi harga emas di pasar Amerika.
Dilansir PBS, Amerika Serikat menjual emas secara bertahap untuk melunasi utang Perang Saudara AS. Jika harga emas naik, nilai dolar AS akan turun dan membuat ekspor Amerika lebih menarik. Dengan begitu, Jay Gould dan James Fisk akan mendapat keuntungan, baik dari peningkatan penggunaan jalur kereta api mereka untuk ekspor maupun dari lonjakan nilai emas yang sudah mereka miliki.
Jay Gould dan James Fisk memiliki informan di Departemen Keuangan AS yang ngasih tahu mereka tentang rencana pemerintah. Sayangnya, hal ini membuat mereka menjadi serakah. Ketika manipulasi mereka ketahuan dengan jelas, Presiden AS Ulysses S. Grant melepaskan cadangan emas senilai 4 juta dolar AS atau setara dengan Rp72,3 miliar.
Nilai segitu cukup besar untuk menurunkan harga dan menggagalkan rencana Jay Gould dan James Fisk pada waktu itu. Namun, rencana itu gagal, bersamaan dengan runtuhnya pasar saham. Adapun, Gould dan Fisk lolos tanpa konsekuensi. Meskipun begitu, tiga tahun kemudian, Fisk dibunuh karena seorang perempuan.
Sementara itu, Amerika Serikat menghadapi krisis ekonomi selama berbulan-bulan setelah berakhirnya Perang Saudara AS. Rekonstruksi sendiri masih berlangsung. Di samping itu, sebagian besar bekas Konfederasi masih diduduki oleh pasukan Federal. Kepanikan ekonomi kedua pada tahun 1873 (juga di bawah pemerintahan Grant) melemahkan antusiasme publik terhadap Rekonstruksi. Proyek tersebut berakhir pada tahun 1877.
5. Ekonomi dunia hampir runtuh akibat Black Thursday
Citra Roaring 1920s yang terlihat hedon, glamor, dan para flapper yang berdansa riang sambil meneguk sampanye rupanya masih bertahan hingga tahun 2020-an. Namun, ada waktunya musik berhenti, dan kemeriahan jazz tahun 20-an berakhir dengan dentuman suram pada 24 Oktober 1929. Black Thursday atau Kamis Gelap adalah awal dari kehancuran pasar saham terbesar (sejauh ini), yang merupakan salah satu faktor berkelanjutan dalam Great Depression.
Penurunan harga saham kecil-kecilan pada Oktober 1929 makin parah. Hal ini diperparah oleh fakta bahwa banyak saham dibeli dengan margin, sebuah teknik optimis yang melibatkan investasi dengan uang pinjaman. Asumsinya gini, aset akan naik cukup cepat sehingga keuntungannya bisa menutupi biaya bunga (pinjaman).
Adapun, teknologi analog pada saat itu tidak mampu mengimbangi gelombang besar orang yang berharap untuk menjual saham mereka yang merosot. Hal ini pun membuat harganya semakin jatuh, kian curam, dan akhirnya runtuh. Jadi, karena kepanikan meningkat, polisi dikirim ke Wall Street untuk menjaga agar tidak terjadi bentrokan.
Bentrokan memang sempat terjadi, tapi mereda pada hari Jumat. Namun, hari Senin dan Selasa berikutnya, indeks saham mengalami penurunan yang lebih parah. Ekonom dan sejarawan mempertanyakan sebab akibat antara krisis 1929 dan Great Depression yang terjadi berikutnya. Terlepas dari itu, krisis tersebut secara historis dipandang sebagai tanda utama dari Great Depression yang berkepanjangan dan parah.
6. Krisis pasar saham ketika dunia dilanda perang
Beberapa negara yang paling terpukul oleh Great Depression berada di Eropa Tengah. Sebagai bagian dari perjanjian perdamaian yang mengakhiri Perang Dunia I, Jerman dikenai ganti rugi perang yang sangat besar. Jerman pun hanya mampu bertahan dengan bantuan pinjaman dari Amerika. Tapi, pinjaman ini mengering (dan bahkan diminta untuk dibayar kembali) ketika krisis melanda Amerika Serikat.
Di sisi lain, kegagalan bank di Austria pada tahun 1931 menyeret sejumlah bank di negara-negara sekitarnya. Hal ini pun pada akhirnya mengacaukan seluruh sistem keuangan Jerman. Dalam kemiskinan dan rasa dendam, para pemilih Jerman memilih Adolf Hitler pada tahun 1933.
Beberapa tahun kemudian, pemulihan Amerika Serikat sendiri mengalami kemerosotan ekonomi. Resesi tahun 1937—1938 merupakan penurunan yang serius. Pasalnya, PDB turun 10 persen dan pengangguran kembali melonjak hingga 20 persen, seperti yang dilaporkan Federal Reserves History.
Penyebabnya sendiri merupakan campuran dari kenaikan pajak (termasuk yang terkait dengan program Jaminan Sosial baru) dan kebijakan pemerintah AS yang mengharuskan bank untuk menyimpan cadangan yang lebih tinggi. Singkatnya gini, AS bertindak seolah-olah telah pulih sepenuhnya dari Great Depression, padahal belum. Perubahan kebijakan pemerintah AS memang membantu perekonomian pulih, tetapi ada dorongan besar berupa peningkatan kekuatan pertahanan sebelum Perang Dunia II dan produksi industri besar-besaran yang dibutuhkan untuk perang.
7. Para bankir harus menciptakan mekanisme pertahanan (circuit breaker) untuk mencegah keruntuhan total
Delapan bulan pertama tahun 1987 sangat bagus untuk pasar saham. Orang-orang yang menjual saham pada bulan Agustus mendapatkan keuntungan yang sangat baik di tahun tersebut. Namun, sebagian besar investor lainnya mengalami penurunan yang tidak menyenangkan.
Angka defisit perdagangan AS yang mengecewakan, ditambah dengan berita-berita pesimistis lainnya, menyebabkan penurunan 4,6 persen pada Dow Jones di hari Jumat, 16 Oktober 1987. Pada pagi hari Senin, 19 Oktober 1987, pasar di Asia dan Pasifik anjlok, membuat pasar AS bersiap untuk jatuh pada pembukaannya. Dan benar saja, pasar AS anjlok lebih dari 20 persen pada hari itu. Selandia Baru bahkan mengalami hal yang jauh lebih buruk, dengan pasar saham jatuh hingga 60 persen.
Kecelakaan pasar tahun 1987 menyebabkan sejumlah reformasi di pasar, dan sebagian besar kerugian pulih dengan cukup cepat. Aturan baru yang paling menonjol adalah circuit breakers, yang masih berlaku hingga saat ini. Aturan ini secara otomatis menghentikan perdagangan untuk jangka waktu tertentu jika dan ketika pasar turun dalam jumlah tertentu. Ketentuan ini dapat berlaku untuk saham individual. Jeda perdagangan selama 15 menit terjadi jika indeks S&P anjlok di bawah 7 persen dari hari sebelumnya. Hal itu terjadi lagi jika indeks terus turun melewati 13 persen. Pada angka 20 persen, perdagangan dihentikan untuk hari itu demi mencegah, atau, setidaknya menunda kehancuran akibat penjualan yang panik.
8. Perusahaan-perusahaan bisnis web awal runtuh secara massal
Pada akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an, banyak orang yang sangat antusias dengan internet. Meskipun mereka tidak sepenuhnya tahu apa itu internet. Namun, ada banyak gagasan yang beredar. Nah, karena gagasan tentang perdagangan internet masih sangat baru, banyak orang yang tidak benar-benar tahu untuk mengevaluasi apakah rencana bisnis itu bagus atau tidak. Kendati demikian, banyak investor yang menginvestasikan uang ke dalam bisnis yang terdengar keren ini. Tapi bisnis ini sebenarnya tidak menghasilkan keuntungan yang nyata.
Tanpa keuntungan, sulit untuk mempertahankan bisnis tersebut. Seperti itulah yang dipelajari oleh para pengusaha dan investor ketika bubble ekonomi pecah pada tahun 2001. Kenaikan suku bunga membuat investor panik. Mereka pun mulai menjual saham, yang membuat indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi mulai jatuh seperti Wile. E Coyote, yang kehilangan hampir 4.000 poin antara puncak Maret 2000 dan titik terendahnya pada Oktober 2002. Banyak sekali “dot com” yang gagal, termasuk mesin pencari pra-Google, layanan streaming musik semi-legal, layanan perlengkapan hewan peliharaan pets.com yang mendahului zamannya, dan “mata uang web” yang disebut beenz.
9. Warga Islandia demo di tengah krisis ekonomi 2008
Pada tahun 2007—2008, pasar keuangan global hampir runtuh. Bank-bank Amerika dibiarkan tumbuh terlalu besar dan didorong untuk memberikan kredit terlalu bebas. Namun, ketika kegagalan dan tekanan melanda ekonomi Amerika dan menyebar ke seluruh dunia, resesi besar pun dimulai. Resesi besar adalah bencana keuangan terburuk sejak Great Depression. Meskipun sebagian besar dunia bisa terpengaruh sampai batas tertentu, negara yang paling parah terkena dampaknya adalah Islandia.
Islandia mencoba mencari keuntungan dengan mengembangkan bank-banknya, membuka cabang di negara lain, dan berharap menjadi kuat secara ekonomi. Sayangnya, ketika krisis melanda, bank-bank ini beroperasi dalam mata uang asing yang tidak dapat dipengaruhi atau disuplai dana darurat oleh Islandia sendiri, sehingga bank-bank Islandia bangkrut hanya dalam satu minggu. Hal ini membuat marah warga Islandia. Sejak Oktober 2008, demo terjadi di luar gedung-gedung pemerintah Islandia. Para demonstran menyerukan untuk menggulingkan ketidakbecusan pemerintah.
Seperti yang dikutip Al Jazeera, jumlah massa terbesar mencapai 6 hingga 7 ribu orang. Nah, kemungkinan mewakili lebih dari 2 persen dari populasi Islandia yang berjumlah sekitar 320.000 jiwa. 25 persen penduduk Islandia mungkin pernah berpartisipasi. Protes tersebut berhasil. Pada Januari dan Februari 2009, pemerintah Islandia dan regulator keuangan utamanya mengundurkan diri.
10. Zona euro hampir collapse
Krisis tahun 2008 membebani anggaran publik di zona euro, terutama di kelompok negara yang kemudian dikenal dengan sebutan PIIGS (Portugal, Irlandia, Italia, Yunani, dan Spanyol). Siprus juga bermasalah, tetapi tidak terlalu parah. Nah, dari negara-negara yang bermasalah ini, Yunani paling banyak menjadi sorotan, karena penerimaan pajak yang rendah, penurunan pasar saham, dan beban utang negara yang semakin tinggi, mendorong negara itu menuju malapetaka, seperti yang dikutip Peterson Institute for International Economics.
Adapun, langkah-langkah penghematan yang diberlakukan oleh pemerintah Yunani memicu pemogokan dan kerusuhan. Warga Yunani mulai mengemukakan gagasan agar Yunani meninggalkan zona euro. Dengan logika ini, drachma yang dipulihkan akan menggantikan euro di Yunani dan nilainya akan turun dengan cepat, membuat liburan dan ekspor Yunani menarik bagi orang-orang yang euro-nya akan lebih berharga. Ini, setelah beberapa penyesuaian yang tidak menyenangkan, akan membawa investasi ke Yunani dan memungkinkan negara itu untuk pulih.
Pada akhirnya, Yunani pulih berkat bantuan dari negara-negara zona euro lainnya, terutama Jerman. Hal ini tidak nyaman bagi Yunani, yang para politisinya berpendapat bahwa Jerman sudah berutang ganti rugi finansial kepada Yunani atas pendudukan Nazi selama Perang Dunia II. Namun, sejauh ini Republik Hellenik berhasil tetap berada di zona euro.
11. Keruntuhan harga minyak akibat COVID-19
Perusahaan minyak mungkin bukan korban yang paling simpatik dari ketidakpastian pasar awal terjadinya COVID-19. Tapi penurunan permintaan minyak yang terjadi secara tiba-tiba akibat hampir terhentinya perjalanan di sebagian besar dunia memang menempatkan minyak dalam posisi yang serba salah. Dikutip CNBC, ekstraksi minyak tidak dapat dihentikan secara tiba-tiba, dan pemasok utama minyak, yaitu Rusia dan Arab Saudi, berselisih tentang berapa banyak dan berapa lama pasokan minyak harus dikurangi dalam menghadapi krisis. Jadi, untuk pertama kalinya, dunia memiliki terlalu banyak minyak.
Situasi ini membuat harga minyak turun secara drastis. Untuk periode waktu tertentu pada April 2020, West Texas Intermediate, diperdagangkan dengan harga negatif. Dengan penyimpanan yang penuh, pasar yang tiba-tiba terbatas menjadi kelebihan pasokan. Pada akhirnya, banyak orang yang mulai menggunakan minyak lagi dan situasinya kembali normal.
Ramai soal pasar saham yang anjlok di Indonesia. Pasalnya, pada Rabu (03/06/2026) IHSG anjlok sekitar 4 persen, seperti yang dikutip IDN Times. Hal ini tertekan oleh arus modal asing yang keluar serta sentimen mata uang Rupiah yang melemah mendekati Rp18.000 per Dolar AS. Yap, sejarah membuktikan bahwa kejatuhan pasar saham memang pernah terjadi di masa lalu, seperti yang sudah kita bahas di poin-poin sebelumnya.
4 Fakta Misi Juno, Penelitan Bersejarah NASA ke Planet Jupiter 5 Fakta Kastil Karlštejn, Benteng Bersejarah Penjaga Harta Kekaisaran 5 Fakta Londonderry, Kota Penuh Sejarah Kelam di Irlandia Utara





