JawaPos.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang telah tembus Rp 18.000 dan kenaikan BI rate ke level 5,25 direspons pelaku bisnis. Maximiliaan Agatisianus, President Director Asuransi Astra, tak memungkiri perkembangan makro perusahaan juga tak terlepas dari perkembangan tersebut sehingga pastinya akan terkait.
“Jadi rasa-rasanya pasti semua juga langsung terimpact, yang pertama mungkin kita lebih lihat ke kemungkinan naik atau turun, naik (suku bunga) pastinya akan impactnya keinflasi dan penurunan daya beli,” kata Maximiliaan di Jakarta, dikutip Kamis (4/6).
Sementara itu, dia berpendapat hal ini juga akan berdampak pada pembelian kendaraan bermotor secara kredit. Terlebih, Asuransi Astra berada di industri kendaraan bermotor yang terdampak langsung.
Dolar AS Tembus Rp18.025, Rupiah Semakin Ambrol!
Di sisi lain, terkait pelemahan rupiah, dia tak menampik bahwa juga akan berdampak pada pelemahan daya beli. Terlebih pada pembeli yang menggunakan valuta asing.
“Untuk beberapa klien kita yang tentunya biaya yang berbasis dengan valas, ya pasti juga akan terimpact,” ungkap dia.
Terkait proyeksi ke depan, Maximiliaan berpendapat akan tetap bertumbuh dengan terus melakukan diversifikasi. Diversifikasi sendiri menjadi langkah penting agar perusahaan tetap relevan.
Alhasil saat kondisi industri otomotif mengalami tekanan sekalipun, Asuransi Astra dapat tetap resilient atau tetap tangguh dalam beradaptasi dalam kondisi sulit.
“Tentunya kami tetap berhadapan dengan pertumbuhan. Kenapa kami proyeksi pertumbuhan? Karena kita lihat, saya tadi sampaikan di awal bahwa asuransi Astra selalu melakukan diversifikasi untuk kami resilien ke depan,” tukas dia.





