
Heyyoyo.com – Portal Teknologi, Review, Otomotif, Finansial JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian dalam. Pada Jumat (29/5/2026), mata uang Garuda kembali melemah 0,2% ke level Rp 17.881 per dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus menjadi penutupan terlemah sepanjang sejarah.
Namun di balik pelemahan yang menekan daya beli domestik tersebut, kondisi ini justru membuka peluang bagi emiten berorientasi ekspor, khususnya di sektor pulp dan kertas.
Dua nama besar Grup Sinar Mas, yakni PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), diperkirakan menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan.
Dengan struktur pendapatan yang didominasi dolar AS, pelemahan rupiah berpotensi langsung mengerek nilai pendapatan dalam mata uang domestik.
“Emiten yang pendapatannya berbasis dolar AS akan langsung terdorong saat rupiah melemah,” ujar Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas.
Rupiah Pecah Rekor Terlemah: Ditutup di Level Rp 17.881 Per Dolar AS Hari Ini (29/5)
Meski begitu, dampak positif tersebut tidak merata. INKP dinilai memiliki keunggulan lebih kuat dibanding TKIM, terutama dari sisi efisiensi biaya dan ekspansi kapasitas produksi.
Sebagian biaya seperti bahan baku, energi, hingga suku cadang memang juga berbasis dolar, namun INKP disebut lebih mampu mengelola struktur biaya secara optimal pasca ekspansi pabrik Karawang.
Senada, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai penguatan dolar masih bisa menopang margin kedua emiten.
Namun, INKP dianggap lebih optimal dalam memanfaatkan momentum tersebut berkat skala usaha yang lebih besar dan efisiensi operasional yang lebih baik.
“INKP relatif lebih optimal memanfaatkan momentum ini dibanding TKIM,” ujar Sukarno.
TKIM Chart by TradingView
Perbedaan ini juga tercermin dari kinerja kuartal I-2026. INKP mencatat laba bersih US$ 156,12 juta, naik 11,43% secara tahunan, dengan pendapatan tumbuh 4,29% menjadi US$ 816,29 juta.
Rupiah Cetak Rekor Baru di Rp 17.846, Sentimen Domestik Jadi Beban
Sementara TKIM hanya membukukan kenaikan pendapatan 2,47% menjadi US$261,54 juta, namun laba bersihnya justru turun 17,19% menjadi US$ 81,71 juta.
Kesenjangan kinerja ini terutama dipengaruhi struktur biaya dan tingkat leverage. INKP dinilai lebih mampu menjaga efisiensi dan margin, sedangkan TKIM masih terbebani beban keuangan serta margin operasional yang tipis.
Selain itu, TKIM juga lebih rentan terhadap fluktuasi harga pulp global, sementara INKP mulai mengandalkan segmen kertas industri dengan margin yang lebih stabil.
Memasuki kuartal II-2026, prospek INKP dipandang masih lebih menarik. Utilisasi pabrik Karawang diperkirakan meningkat hingga 30%, dengan proyeksi pendapatan tahun penuh mendekati US$ 3,8 miliar dan laba bersih hampir US$700 juta.
Margin EBITDA juga diproyeksikan berada di kisaran 30%. Sebaliknya, kinerja TKIM diperkirakan cenderung stagnan akibat belum adanya tambahan kapasitas dan beban utang yang masih tinggi.
Rupiah Tembus ke Rp 17.800 Per Dolar AS di Pagi Ini (27/5), Mata Uang Asia Menguat
Dari sisi valuasi, INKP dinilai masih menarik. Dengan price to earnings ratio (PER) sekitar 8,8 kali, saham ini berada di bawah rata-rata global sekitar 13,4 kali, dan belum sepenuhnya mencerminkan kontribusi pabrik Karawang.
Karena itu, Wafi merekomendasikan beli INKP dengan target harga Rp9.800, sementara TKIM dinilai lebih cocok untuk strategi trading jangka pendek. Adapun Sukarno merekomendasikan beli INKP dengan target Rp 10.000, serta akumulasi beli TKIM dengan target Rp 6.400.
Pada perdagangan terakhir, saham INKP ditutup melemah 1,29% ke Rp7.675, sementara TKIM turun tipis 0,45% ke Rp5.575 per saham.





