Kementerian Energi bahas efek loyonya rupiah ke subsidi BBM

H Anhar

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral tengah membahas dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap impor minyak dan subsidi bahan bakar minyak (BBM). Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi ESDM Laode Sulaeman mengatakan, hingga kini pemerintah belum mengeluarkan kebijakan fiskal baru untuk merespons tekanan kurs tersebut.

“Jadi Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia) bersama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut. Kita tunggu saja dan lihat perkembangannya nanti,” kata Laode saat ditemui di Kementerian ESDM, Rabu, 13 Mei 2026.

Di sisi lain, Laode memastikan cadangan BBM nasional masih berada dalam kondisi aman, yakni cukup untuk 23 hingga 26 hari. Menurut dia, Indonesia belum menghadapi situasi krisis energi seperti yang terjadi di sejumlah negara lain.

Ia menilai kondisi itu terlihat dari aktivitas masyarakat yang masih tinggi, termasuk kemacetan kendaraan di jalan raya. “Saya tiap hari masih macet di jalan, sementara di negara lain ada yang sudah jalan kaki. Artinya, cadangan energi kita masih tersedia,” ujarnya.

Saat ini Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari atau sekitar 20 juta kiloliter BBM per tahun. Impor dilakukan karena produksi minyak domestik hanya berkisar 605 ribu hingga 610 ribu barel per hari, jauh di bawah konsumsi nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari.

Besarnya impor tersebut membuat beban subsidi energi dalam APBN 2026 meningkat menjadi Rp 210 triliun, naik 14,24 persen dibandingkan realisasi subsidi pada 2024 sebesar Rp 183,9 triliun.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan, pelemahan rupiah akan mendorong kenaikan harga barang impor dan memicu inflasi secara bertahap.

Pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah melemah ke level Rp17.528 per dolar AS atau turun 114 poin dibanding hari sebelumnya. Menurut Syafruddin, jika rupiah bertahan di level Rp17 ribu per dolar AS dalam waktu lama, tekanan terhadap biaya hidup masyarakat akan semakin terasa.

“Rumah tangga miskin dan kelas menengah akan menanggung beban paling berat karena porsi belanja mereka terkonsentrasi pada makanan, transportasi, dan kebutuhan rutin,” kata Syafruddin.

Tekanan tersebut dinilai semakin besar karena harga energi global masih tinggi. Harga minyak Brent tercatat berada di level US$96,48 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$98,72 per barel. Kenaikan harga energi biasanya cepat merambat ke biaya transportasi dan distribusi, lalu mendorong kenaikan harga barang di pasar tradisional maupun ritel modern.

Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Pilihan Editor: Hitung-hitungan Beban Fiskal Menahan Harga Bahan Bakar

Also Read

[addtoany]

Tags