
Heyyoyo.com – Portal Teknologi, Review, Otomotif, Finansial – JAKARTA. Indeks utama Wall Street bergerak melemah pada perdagangan Senin (11/5/2026)), setelah mencatat reli yang memecahkan rekor pada pekan sebelumnya.
Sentimen pasar mulai tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap stagnasi perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, yang memengaruhi selera risiko investor global.
Penolakan cepat Presiden AS Donald Trump terhadap respons Iran atas proposal perdamaian dari Washington memicu kekhawatiran bahwa konflik yang telah berlangsung sekitar 10 minggu tersebut berpotensi berkepanjangan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu jalur perdagangan penting melalui Selat Hormuz, salah satu jalur utama pengiriman minyak dunia.
Ketegangan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah hingga hampir 3%, menambah tekanan pada pasar energi global.
Meski demikian, kenaikan harga minyak belum cukup kuat untuk menggoyahkan momentum pasar saham secara keseluruhan dalam beberapa pekan terakhir.
Ekonom Bank Mandiri : Sentimen Global Penyebab Utama Pelemahan Rupiah pada 2026
Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sebelumnya ditutup pada level tertinggi sepanjang masa pada akhir pekan lalu, didukung oleh kinerja emiten yang solid, optimisme sektor semikonduktor, serta data ketenagakerjaan AS yang kuat.
Pada perdagangan Senin, kedua indeks kembali mencatat rekor intraday baru, melanjutkan tren penguatan dari sesi sebelumnya.
Fokus Investor Beralih ke Data Inflasi
Pasar kini bersiap menghadapi rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat pada hari Selasa, yang diperkirakan menunjukkan inflasi naik pada April. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Selain CPI, data Indeks Harga Produsen (PPI) dan penjualan ritel bulanan juga akan dirilis pada akhir pekan ini, dan menjadi fokus utama pelaku pasar dalam mengukur arah kebijakan moneter The Federal Reserve.
“Daftar kekhawatiran memang panjang, tetapi ekonomi terus membuktikan para pesimis (bearish) salah,” ujar Robert Edwards, Chief Investment Officer Edwards Asset Management.
“Big tech kembali memimpin, didukung oleh pendapatan dan laba yang solid serta terus bertumbuh. Nama-nama ini berada di pusat setiap tema struktural utama jangka panjang,” tambahnya.
Saham-Saham Ini Banyak Dikoleksi Asing Saat IHSG Lanjut Terkoreksi, Senin (11/5)
Pergerakan Indeks dan Sektor
Pada Senin pukul 10:08 waktu AS, Dow Jones Industrial Average turun tipis 3,54 poin atau 0,01% ke level 49.605,62. Sementara itu, S&P 500 naik 11,38 poin atau 0,15% ke 7.410,31, dan Nasdaq Composite menguat 10,19 poin atau 0,04% ke 26.257,27.
Delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berada di zona hijau, dengan sektor energi menjadi penggerak utama setelah naik 1,5%. Sektor material juga menguat 1,3%, mengikuti kenaikan harga logam mulia.
Sentimen Global dan Agenda Politik
Investor juga mencermati rencana pertemuan antara Presiden Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan ini. Pertemuan tersebut diperkirakan membahas sejumlah isu strategis, termasuk Iran, Taiwan, kecerdasan buatan (AI), dan senjata nuklir, serta kemungkinan perpanjangan kesepakatan mineral kritis.
Di sisi lain, musim laporan keuangan mulai memasuki fase akhir dengan hasil yang secara umum positif, terutama dipimpin oleh sektor teknologi.
Saham Teknologi dan Pergerakan Korporasi
Saham Intel naik 3,5% setelah melonjak 14% pada akhir pekan sebelumnya, menyusul laporan kesepakatan awal produksi chip dengan Apple. Sementara itu, Qualcomm melesat 8,6% ke rekor tertinggi.
Sentimen Global Bikin Rupiah Loyo Jadi Rp 17.414 per Dolar AS
Di sisi lain, Mosaic melemah 2,1% setelah menarik proyeksi produksi fosfat tahunan. Fox Corporation justru menguat 4% setelah mencatat pendapatan kuartal ketiga di atas ekspektasi pasar.
Saham maskapai penerbangan seperti Southwest Airlines, Delta Air Lines, Alaska Air Group, dan United Airlines terkoreksi antara 1,8% hingga 2% akibat tekanan dari kenaikan harga minyak yang berpotensi menekan margin keuntungan.
Sentimen Pasar Masih Positif
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik masih sedikit lebih banyak dibandingkan yang turun di bursa New York dan Nasdaq. Pasar juga mencatat puluhan saham mencapai level tertinggi 52 minggu, menunjukkan bahwa momentum bullish masih bertahan meskipun ada tekanan geopolitik dan inflasi.
Dengan kombinasi faktor geopolitik, data ekonomi, dan musim laporan keuangan yang hampir berakhir, pasar global diperkirakan akan tetap bergejolak dalam jangka pendek.





