Suku bunga ditahan, The Fed kirim sinyal kebijakan tak lagi dovish

H Anhar

Heyyoyo.com – Portal Teknologi, Review, Otomotif, Finansial Portal Teknologi, Review, Otomotif, Finansial – , JAKARTA — Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga, namun, sinyal pergeseran sikap kebijakan moneter mulai menguat seiring meningkatnya perdebatan internal terkait arah suku bunga di tengah inflasi yang kembali naik.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengungkapkan bahwa semakin banyak anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang mulai mempertimbangkan perubahan sikap kebijakan dari dovish menjadi lebih netral, yang mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang belum sepenuhnya mereda.

“Jumlah anggota Komite yang dapat mendukung perubahan bahasa kebijakan, yaitu beralih ke sikap yang lebih netral sehingga peluang kenaikan suku bunga sama besarnya dengan penurunan, telah meningkat,” ujarnya dalam konferensi pers usai rapat kebijakan FOMC, Kamis (30/4/2026).

: Komite Senat AS Setujui Pencalonan Warsh Jadi Bos The Fed Pengganti Jerome Powell

Pergeseran ini muncul setelah inflasi inti tercatat 3,2% secara tahunan hingga Maret, sementara inflasi keseluruhan mencapai 3,5%, terdorong oleh kenaikan harga energi. Kondisi ini dinilai mulai mengubah keseimbangan pandangan di internal bank sentral.

Powell mengakui bahwa perdebatan terkait arah kebijakan semakin intens dibandingkan pertemuan sebelumnya. Hal ini terlihat dalam banyaknya jumlah anggota FOMC yang menyatakan perbedaan pendapat atau dissent terhadap panduan kebijakan yang masih mempertahankan bias pelonggaran.

: : Tok! The Fed Tahan Suku Bunga Acuan di 3,75%

FOMC memutuskan suku bunga Federal Funds Rate (FFR), yang menjadi acuan utama bagi tingkat bunga di AS, tetap berada pada kisaran 3,5% hingga 3,75%. Adapun dari 12 anggota pemegang hak suara di FOMC, delapan orang mendukung keputusan tersebut, sedangkan empat anggota menyatakan perbedaan pendapat (dissent). Ini menjadi perbedaan pendapat terbesar di FOMC sejak 1992.

Menurut Powell, perubahan pandangan tersebut wajar mengingat perkembangan data inflasi yang bergerak ke arah yang kurang diharapkan. Selain itu, potensi tekanan tambahan dari lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah turut memperkuat argumen untuk bersikap lebih hati-hati.

: : Poin-Poin Sidang Panas Calon Bos The Fed Kevin Warsh: dari Epstein hingga ‘Boneka’ Trump

Meski demikian, mayoritas anggota FOMC masih memilih untuk tidak terburu-buru mengubah panduan kebijakan. Powell menilai ketidakpastian yang tinggi membuat bank sentral perlu menunggu data tambahan sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

“Saya tidak berpikir kita perlu melakukannya pada pertemuan ini. Pertanyaannya adalah mengapa kita perlu melakukannya sekarang. Masih banyak hal yang perlu kita pelajari,” katanya.

Dia menegaskan bahwa dalam 30 hingga 60 hari ke depan, perkembangan data ekonomi berpotensi mengubah arah kebijakan secara signifikan. Oleh karena itu, keputusan akan tetap diambil secara hati-hati dalam setiap pertemuan.

Pergeseran menuju sikap netral ini menjadi sinyal penting bagi pasar, karena membuka kemungkinan yang lebih seimbang antara kenaikan maupun penurunan suku bunga ke depan. Sebelumnya, pasar cenderung mengantisipasi peluang pelonggaran kebijakan yang lebih besar.

Di sisi lain, Powell juga menekankan bahwa The Fed belum mempertimbangkan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Bank sentral masih menunggu kejelasan terkait dampak inflasi dari kenaikan harga energi serta efek tarif terhadap harga barang.

Dengan kondisi tersebut, arah kebijakan moneter AS ke depan dinilai semakin bergantung pada data dan perkembangan global. Ketidakpastian yang tinggi membuat ruang perubahan kebijakan tetap terbuka, tetapi tanpa komitmen arah yang jelas dalam jangka pendek.

Also Read

[addtoany]