
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berpandangan bahwa nilai tukar rupiah memiliki ruang untuk menguat hingga kisaran Rp 15 ribu per dolar Amerika Serikat jika bergerak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi dan penguatan mata uang di kawasan.
“I cannot speak on behalf of the central bank, but if I were in their position, that level would not be difficult to achieve (Saya tidak bisa berbicara mengatasnamakan bank sentral, tetapi jika saya berada di posisi mereka, level tersebut tidak sulit untuk dicapai),” kata Purbaya dalam Indonesia Economic Summit di Shangri-La Hotel Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.
Purbaya menegaskan pengelolaan dan stabilitas nilai tukar sepenuhnya berada dalam kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Ia mengatakan posisi rupiah saat ini relatif menyimpang dibandingkan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan yang cenderung menguat.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa, 3 Februari 2026, bergerak menguat ke level Rp 16.777 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.800 per dolar AS. Namun Berdasarkan realisasi nilai tukar rupiah sepanjang 2025 rata-rata Rp 16.475 per dolar AS.
Menurut Purbaya, pemerintah tetap berkoordinasi dengan Bank Indonesia dan otoritas keuangan lain melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk merespons dinamika nilai tukar yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap perekonomian. Koordinasi tersebut, kata dia, menjadi mekanisme mitigasi apabila pergerakan rupiah dinilai berisiko terhadap stabilitas ekonomi.
Ia mencontohkan, ketika nilai tukar rupiah sempat mendekati level Rp 17 ribu per dolar AS, KSSK segera menggelar pertemuan untuk memastikan rupiah tidak menembus batas psikologis tersebut. Menurut Purbaya, meskipun secara fundamental level itu belum tentu memicu krisis, pelemahan yang terlalu dalam berpotensi menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.
Purbaya mengungkapkan bahwa secara fundamental pemerintah menilai nilai tukar rupiah yang sejalan dengan asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara berada di kisaran 16.500 per dolar AS.
Indonesia, kata dia, mengalami arus masuk modal pada Oktober, November, Desember, dan Januari. Secara teori, menurut Purbaya, arus masuk modal bersih seharusnya mendorong penguatan nilai tukar rupiah.
Namun, ia menyatakan tidak mengetahui alasan rupiah justru melemah di tengah kondisi tersebut. Ia menyarankan agar pertanyaan mengenai hal itu diarahkan kepada Bank Indonesia. Sebab, pelemahan tersebut kemungkinan merupakan bagian dari kebijakan yang ditempuh otoritas moneter untuk menjaga stabilitas.
Pilihan Editor: Bagaimana Bunga Utang Makin Membebani APBN





