
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat penurunan signifikan laba bersih sepanjang tahun 2025. Perseroan membukukan laba sebesar Rp 2,93 triliun, merosot 42,5 persen dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai Rp 5,10 triliun.
Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan penurunan tersebut dipicu oleh melemahnya harga batu bara global sepanjang 2025. Meski demikian, ia mengatakan kinerja operasional perusahaan tetap menunjukkan tren positif di tengah tekanan pasar.
“Perusahaan merespons tantangan ini dengan meningkatkan efisiensi operasional serta memperluas pangsa pasar global,” ujar Arsal dalam jumpa pers di Hotel Westing, Jakarta Selatan, Senin 6 April 2026.
Ia menjelaskan, rata-rata harga jual batu bara terkoreksi seiring turunnya indeks Newcastle hingga 22 persen. Dari sisi operasional, Arsal mengatakan perseroan mencatat peningkatan produksi sebesar 9 persen menjadi 47,2 juta ton.
Volume penjualan batu bara PTBA, kata Arsal, juga naik 6 persen menjadi 45,4 juta ton. Kenaikan ini diikuti oleh pertumbuhan volume angkutan batu bara sebesar 6 persen, dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton.
Untuk penyerapan pasar, Arsal menjelaskan sebanyak 54 persen penjualan dialokasikan ke pasar domestik guna memenuhi kewajiban Domestic Market Obligation (DMO). Sementara itu, porsi ekspor mencapai 46 persen sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasar.
Di tengah tekanan profitabilitas, perusahaan mencatat perbaikan kinerja secara bertahap. Arsal menuturkan hal ini tercermin dari arus kas operasi yang tumbuh 24 persen menjadi Rp 6,26 triliun.
Adapun total aset perusahaan juga meningkat menjadi Rp 43,92 triliun yang didorong oleh penambahan aset tetap strategis. Sepanjang 2025, realisasi belanja modal (capex) mencapai Rp 4,55 triliun yang difokuskan pada pengembangan infrastruktur jangka panjang, termasuk proyek angkutan batu bara relasi Tanjung Enim–Kramasan.
Memasuki 2026, Arsa mengatakan PT Bukit Asam menargetkan produksi dan penjualan masing-masing sebesar 49,5 juta ton, seiring persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tanpa pemangkasan volume.
Arsal menegaskan, strategi cost leadership melalui selective mining dan optimalisasi rantai pasok akan terus menjadi fokus utama perusahaan. Dengan langkah tersebut, ia optimistis dapat menjaga kinerja yang berkelanjutan sekaligus berkontribusi terhadap perekonomian nasional dan ketahanan energi.
“Kami akan pada efisiensi dan pengembangan bisnis yang berkelanjutan dengan tetap mengedepankan kepatuhan terhadap tata kelola perusahaan,” ucapnya.
Pilihan Editor: Terpukul El Nino dari Hulu ke Hilir





