Imbas Perang, Didik Racbini Bicara Urgensi Kendaraan Listrik

H Anhar

REKTOR Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menilai konversi kendaraan listrik menjadi jalan keluar menghadapi krisis energi akibat perang antara Amerika-Israel dan Iran. “Jika lambat dan gagal melakukan transisi dan konversi ini, maka risiko krisis akan semakin nyata,” kata Didik dalam keterangan tertulis pada Jumat, 27 Maret 2026.

Didik mengatakan, eskalasi geopolitik membuat lonjakan harga minyak yang berpotensi menguras anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Ia pun menyinggung pemerintah Filipina yang mendeklarasikan keadaan darurat energi nasional sebagai respons terhadap konflik Timur Tengah. Ini menjadikan Filipina sebagai negara pertama di dunia yang mendeklarasikan status darurat akibat krisis BBM global akibat perang Israel-AS terhadap Iran.

Untuk itu, ia mendesak percepatan konversi kendaraan listrik untuk menyelamatkan fiskal dengan menekan ketergantungan bahan bakar minyak. Peneliti senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) itu menjelaskan, satu unit kendaraan listrik bisa memangkas beban subsidi energi hingga 85 persen. Dengan demikian Didik menyatakan, konversi kendaraan listrik harus dilakukan secara terus-menerus untuk mengantisipasi ketidakpastian global karena mengancam fiskal negara.

Apalagi, katanya, fiskal Indonesia masih terbebani utang dari rezim sebelumnya dan akibat mislokasi anggaran. Sehingga ia berpendapat percepatan elektrifikasi transportasi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk mewujudkan ketahanan nasional dan menyelamatkan ekonomi nasional.

Didik mengatakan ketidaksiapan melakukan transisi bisa menyebabkan subsidi membengkak tidak terkendali, yang berujung pada krisis fiskal. Selain khawatir beban membengkak, Didik menyoroti subsidi hanya akan dinikmati golongan atas yakni para pemilik mobil.

Ia mengatakan, berdasarkan studi Indef, konsumsi energi bersubsidi selama ini tidak mencerminkan pemerataan manfaat antargolongan masyarakat. Sebagian besar distribusi konsumsi pertalite dinikmati golongan atas. Sementara golongan bawah yang mendapatkan fasilitas hanya 37 persen.

Menurut Didik, kondisi krisis energi akibat perang di Timur Tengah menjadi momentum yang tepat untuk melakukan transformasi dan transisi cepat dari energi minyak menjadi energi hijau. “Untuk membuat subsidi energi lebih tepat sasaran, sekaligus menyiasati perubahan dan gejolak harga minyak karena perang,” katanya.

Pilihan Editor: Lonjakan Pemakaian Mobil Listrik Tidak Menekan Konsumsi BBM

Also Read

[addtoany]

Tags