
PERUSAHAAN otomotif asal Korea Selatan Hyundai belum mempertimbangkan menaikan harga jual mobil dalam waktu dekat meski ada sentimen perang di Timur Tengah. Konflik itu telah mengerek berbagai harga, mulai dari minyak mentah, ongkos logistik, harga bahan baku plastik, hingga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang semakin lemah.
Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia Fransiscus Soerjopranoto mengatakan manajemen akan memberikan yang terbaik dan tidak memiliki tekanan untuk melakukan pengurangan pengeluaran yang berlebihan dalam kegiatan produksi.
“Mungkin bisa diserap dengan beberapa perbaikan yang dilakukan dalam proses manufaktur dan juga di dalam proses distribusi, dan tidak akan membebankan dealer juga,” katanya saat ditemui di kantor Hyundai, Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Fransiscus mengatakan harga penjualan dipastikan tetap stabil seiring berusaha meningkatkan penjualan unit mobil pada tahun ini. Pihaknya juga tetap berupaya menghadirkan produk-produk ramah lingkungan yang digerakan oleh listrik. “Kami akan terus lakukan demi pelanggan, jadi biar industri otomotif kita tetap stabil,” tuturnya.
Fransiscus berharap pemerintah memberikan perhatian kepada industri otomotif melalui insentif mobil listrik lagi. Tahun ini, insentif tersebut ditiadakan karena pemerintah memprioritaskan untuk program mobil nasional.
Hyundai menganggap pengalihan dari bahan bakar minyak ke listrik menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Fransiscus ingin ada manfaat lain bagi pengguna kendaraan listrik selain diberikan keringanan pajak, seperti harga khusus pada saat pembayaran tol atau parkir. “Itu yang kami harapkan dari pemerintah,” tuturnya.
Berdasarkan jumlah penjualan per tahun, Hyundai telah menjual 19.007 unit mobil menurut wholesales (dari pabrik ke dealer) dan 19.664 unit ke ritel (dari dealer ke konsumen). Pencapaian tahun 2025 menurun dibandingkan 2024 sebanyak 22.361 unit menurut wholesales dan 22.097 unit ke ritel.
Pilihan Editor: Bisakah SPBU Swasta Menyerap Solar Pertamina





