IHSG bergejolak di area 9.000, aksi ambil untung bikin indeks sempat anjlok 2%

H Anhar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (12/1/2026) sempat terjun tajam 2% sekitar pukul 14.30 WIB, meski kemudian rebound sedikit meski belum kembali ke posisi awal.

Koreksi intraday ini terjadi secara serentak di banyak saham, termasuk AMMN, ASII, BBNI, dan BREN, menandakan volatilitas pasar yang tinggi.

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat menilai, koreksi tersebut lebih disebabkan oleh faktor psikologis investor dibanding adanya sentimen baru.

“Beberapa saham yang turun itu memang sebelumnya sudah naik signifikan, seperti Astra dan Barito Renewables. IHSG saat ini sudah mendekati level psikologis 9.000, sedangkan beberapa bulan lalu baru menembus 8.000. Jadi wajar kalau investor melakukan profit taking,” ujar Teguh ketika dihubungi Kontan, Senin (12/1/2026).

Harga Emas Tinggi, Hartadinata (HRTA) Bidik Pendapatan Tumbuh Dua Digit pada 2026

Menurut Teguh, kenaikan cepat IHSG dari 8.000 ke 9.000 dalam waktu empat bulan menimbulkan persepsi bahwa indeks bergerak terlalu cepat.

“Secara psikologis, investor berpikir, ‘8.000 sudah tembus, masa 9.000 langsung?’ Sehingga beberapa memilih mengamankan keuntungan. Itu sebabnya koreksi intraday itu sangat wajar, bahkan sehat,” tambah Teguh.

Teguh menekankan aksi profit taking ini bukan berarti pasar tidak likuid atau tidak efisien. “Nilai transaksi harian pada awal-awal tahun ini justru tinggi, bisa menembus Rp 20 triliun, padahal biasanya sekitar Rp10 triliun. Artinya, pasar masih aktif dan likuid. Koreksi ini lebih mencerminkan perilaku wajar investor yang berhati-hati menghadapi kenaikan cepat IHSG,” ujarnya.

Ia menambahkan, fenomena serupa bisa terjadi kapan saja ketika IHSG menembus level psikologis baru, dan biasanya diikuti periode konsolidasi sebelum tren kenaikan berlanjut.

Sementara itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, melihat koreksi intraday ini juga terkait dengan dinamika geopolitik dan sentimen global. “Pelaku pasar merespons wajar terhadap meningkatnya ketegangan AS-Iran. Di sisi lain, aksi profit taking di saham energi turut menjadi salah satu penyebab IHSG terkoreksi. Investor juga memantau US CPI yang diproyeksikan masih cooling down,” jelas Nafan.

Kedua narasumber sepakat koreksi intraday ini menunjukkan IHSG sangat reaktif terhadap sentimen psikologis dan berita global, namun bukan indikator pasar tidak sehat.

Saham Papan Akselerasi Ngebut, Begini Strategis Investasi Untuk Tahun 2026

Teguh menambahkan, meski IHSG bisa dengan cepat menembus level psikologis 9.000, indeks juga mudah terkoreksi karena pasar saham sensitif terhadap sentimen investor dan pergerakan saham big cap.

Fenomena hari ini menjadi pengingat bagi investor meski IHSG berpotensi mencapai level psikologis baru dalam jangka menengah hingga panjang, pergerakan intraday bisa sangat volatil. Investor disarankan untuk tetap memperhatikan manajemen risiko dan psikologi pasar dalam pengambilan keputusan investasi.

Also Read

[addtoany]

Tags