
Heyyoyo.com – Portal Teknologi, Review, Otomotif, Finansial JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kuartal kedua ini masih akan tertekan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan kebijakan suku bunga The Fed.
IHSG menutup akhir perdagangan kuartal satu 2026 di level 7.048,22 pada 31 Maret 2026. Di tiga bulan pertama 2026, IHSG anjlok 18,49% dengan net sell investor asing mencapai Rp 32,85 triliun.
Jika dirinci secara bulanan, IHSG terkoreksi 3,67% pada Januari 2026. Pada Februari 2026, IHSG juga masih melemah 1,33%. Tekanan paling dalam terjadi pada Maret 2026, yang anjlok 14,42%.
Harga Naik Tajam, Saham KONI dan BAPA Masuk Radar UMA
Head of Research KISI Muhammad Wafi mencermati pasar saham cenderung tertekan dan sideways dengan katalis pelemahan rupiah yang menembus Rp 17.000 per dolar AS dan kebijakan yang masih higher for longer.
“Secara valuasi, IHSG undervalued tetapi tren net sell asing bisa berlanjut untuk menghindari kerugian kurs dan memindahkan dana ke aset instrumen safe haven seperti dolar AS,” jelasnya kepada Kontan, belum lama ini.
Untuk kuartal dua ini, Wafi menyarankan investor dapat menerapkan strategi defensif dan memperbesar porsi kas atau memasang strategi wait and see. Sektor pilihannya jatuh pada komoditas, defensif dan bank besar.
Untuk emiten komoditas atau ekspor yang diuntungkan dari penguatan dolar AS pilihannya jatuh pada AMMN dan ADRO. Di sektor defensif ada di saham ICBP dan MYOR.
Lebih lanjut, Wafi juga menyarankan untuk buy on weakness pada big banks seperti, BBCA dan BBRI, dengan catatan saat net sell investor asing sudah mulai mereda.
Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) Siapkan Rp 750 Miliar untuk Buyback Saham





