Harga saham blue chip ini memantul usai melemah 25%, saatnya beli / jual?

H Anhar

Heyyoyo.com – Portal Teknologi, Review, Otomotif, Finansial Jakarta. Harga saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) berbalik arah pada 31 Maret usai mengalami pelemahan sejak awal tahun 2026. Apakah ini sudah menjadi waktu tepat untuk beli saham berkarakteristik blue chip tersebut atau malah jual?

Harga saham AMRT pada akhir perdagangan Selasa 31 Maret 2026 ditutup di level 1.480 naik 75 poin atau 5,34% dibandingkan sehari sebelumnya. Sejak awal tahun 2026 atau secara year to date, harga saham perusahaan ritel Alfamart ini terakumulasi turun 505 poin atau 25,44%.

Saat harga mulai berbalik, analis rekomendasi beli saham AMRT. Hal ini karena AMRT memiliki kinerja bagus dan prospek cerah pada tahun 2026.

Pasar Saham Tertekan, Analis Rekomendasi BRMS MEDC ARCI ANTM AKRA

Kinerja AMRT 2025

AMRT mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun 2025. Emiten pengelola jaringan ritel Alfamart ini berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih secara konsisten.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis pada Jumat (27/3/2026), pendapatan bersih AMRT mencapai Rp 126,73 triliun pada 2025, meningkat 7,19% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Rp 118,22 triliun pada 2024.

Kontributor utama pendapatan berasal dari segmen makanan sebesar Rp 89,62 triliun, naik dari Rp 83,28 triliun. Sementara segmen non-makanan juga tumbuh menjadi Rp 37,1 triliun dari sebelumnya Rp 34,94 triliun.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih AMRT yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat menjadi Rp 3,41 triliun pada 2025, atau naik 8,34% yoy dari Rp 3,15 triliun pada tahun sebelumnya.

Kinerja positif ini turut tercermin dari laba per saham (EPS) yang naik menjadi Rp 82,16 per saham, dari Rp 75,81 per saham pada 2024.

General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, mengungkapkan bahwa kinerja AMRT didorong oleh strategi yang berfokus pada kebutuhan konsumen, termasuk program promosi yang relevan, penguatan layanan omnichannel melalui Alfagift, serta optimalisasi program loyalitas pelanggan.

Di sisi internal, perusahaan juga menjalankan efisiensi operasional secara selektif guna menjaga profitabilitas dan kesehatan bisnis secara berkelanjutan.

Memasuki tahun 2026, AMRT memandang prospek industri ritel masih positif. Daya beli masyarakat yang relatif terjaga serta peningkatan penetrasi digital menjadi peluang utama untuk mendorong pertumbuhan bisnis.

Secara terpisah, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai kinerja AMRT didukung oleh ekspansi gerai yang konsisten, pertumbuhan same store sales (SSSG), serta kontribusi produk private label dan digitalisasi melalui platform Alfagift.

Selain itu, efisiensi operasional dan skala ekonomi yang besar turut menjaga margin tetap stabil di tengah tekanan biaya.

Tonton: Strategi Baru AS Hadapi Drone Murah Iran: Lawan Murah dengan Murah!

Prediksi & Rekomendasi saham AMRT

Untuk tahun 2026, Azis memproyeksikan pendapatan AMRT akan tumbuh sekitar 6%–9% yoy, dengan pertumbuhan laba yang berpotensi lebih tinggi berkat efisiensi dan operating leverage.

Meski demikian, tantangan tetap ada, seperti persaingan harga, inflasi, serta tekanan daya beli masyarakat kelas menengah bawah.

Kehadiran kompetitor seperti Kopdes Merah Putih diperkirakan meningkatkan persaingan di tingkat komunitas. Namun, dampaknya terhadap AMRT dinilai terbatas berkat keunggulan jaringan luas, rantai pasok yang kuat, serta kekuatan brand.

Azis merekomendasikan saham AMRT dengan rating trading buy, dengan target harga di kisaran Rp 1.545 hingga Rp 1.595 per saham.

Dengan kombinasi ekspansi agresif, transformasi digital, dan strategi efisiensi, AMRT dinilai masih memiliki prospek menarik di tengah dinamika industri ritel nasional.

Also Read

[addtoany]

Tags