
Heyyoyo.com – Portal Teknologi, Review, Otomotif, Finansial JAKARTA. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) memiliki peluang untuk memulihkan kinerja keuangan dan operasionalnya secara bertahap pada 2026. Hal ini sangat bergantung pada kemampuan produksi AMMN usai transisi tambang ke Fase 8 dan kontribusi smelter yang telah melalui proses peningkatan (ramp-up).
Sebagaimana diketahui, AMMN membukukan penurunan penjualan bersih sebesar 31% year on year (yoy) menjadi US$ 1,85 miliar pada akhir 2025. Pada saat yang sama, EBITDA AMMN berkurang 26% yoy menjadi US$ 1,06 miliar. Laba bersih AMMN juga tergerus 60% yoy menjadi US$ 258 juta.
Dari sisi operasional, produksi konsentrat AMMN turun 41% yoy menjadi 446.563 metrik ton kering pada 2025 yang juga dibarengi oleh penurunan volume penjualan konsentrat 73% yoy menjadi 151.453 metrik ton kering.
AMMN mencatatkan penurunan produksi tembaga dalam konsentrat sebesar 47% yoy menjadi 209 juta pon pada 2025. Penjualan tembaga dalam konsentrat emiten ini juga menyusut 76% yoy menjadi 69 juta pon. Namun, harga jual bersih tembaga dalam konsentrat AMMN tumbuh 23% yoy menjadi US$ 5,10 per pon pada 2025.
Beralih ke komoditas emas dalam konsentrat, AMMN mencatat adanya penurunan sebesar 87% yoy terkait produksi produk tersebut menjadi 102.758 ons pada 2025. Penjualan emas dalam konsentrat AMMN juga terkoreksi 91% yoy menjadi 55.402 ons. Di sisi lain, harga jual bersih emas dalam konsentrat AMMN melesat 75% yoy menjadi US$ 4.204 per ons.
Penjualan dan Laba Amman Mineral (AMMN) Melemah pada 2025, Cek Pemicunya
Direktur Utama AMMN, Arief Sidarto mengatakan, tahun 2025 merupakan tahun transisi yang sangat penting bagi AMMN. Peralihan ke penambangan Fase 8 yang ditandai dengan kadar bijih yang lebih rendah bersamaan dengan proses peningkatan kapasitas (ramp-up) smelter menimbulkan tekanan operasional jangka pendek.
“Namun, kami berhasil mencapai berbagai tonggak strategis, terutama menuntaskan transformasi menjadi produsen tembaga dan emas yang terintegrasi penuh,” ujar dia dalam keterbukaan informasi, Kamis (26/3/2026).
Untuk ke depannya, Manajemen AMMN memperkirakan produksi sebesar 900.000 metrik ton kering konsentrat pada 2026 yang mengandung 485 juta pon (setara dengan 220.000 ton) tembaga dan 579.000 ons emas.
Dari total produksi konsentrat tersebut, sekitar 500.000 metrik ton kering konsentrat akan diproduksi dari pabrik konsentrator AMMN yang sudah ada, sementara sisanya sebesar 400.000 metrik ton kering akan berasal dari pabrik konsentrator perusahaan yang baru, tergantung pada kemajuan proses komisioning. Seperti halnya ramp up fasilitas baru pada umumnya, terdapat risiko eksekusi yang melekat.
Produksi Tembaga dan Emas Melonjak, Amman Mineral (AMMN) Diproyeksi Cetak Laba
Operasi smelter terus menunjukkan perbaikan menuju akhir 2025 setelah penyelesaian perbaikan. AMMN memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada 31 Oktober 2025, dengan kuota 480.000 dmt yang berlaku selama enam bulan. Hal ini memberikan fleksibilitas operasional sekaligus menjadi langkah mitigasi apabila proses ramp-up smelter menghadapi tantangan.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, prospek kinerja AMMN diyakini akan membaik secara bertahap pada 2026 dengan catatan emiten ini dapat memastikan stabilisasi produksi pasca transisi tambang ke Fase 8 dan kontribusi tambahan dari smelter yang mulai ramp up.
Produksi tembaga yang ditetapkan sebesar 485 juta pon dan emas sebanyak 579.000 ons memperlihatkan bahwa volume produksi AMMN akan kembali meningkat pada 2026, meski belum sepenuhnya optimal seperti sebelum fase transisi.
Kegiatan ramp up smelter berpotensi memberikan nilai tambah margin melalui peningkatan proses hilir dan efisiensi biaya pengolahan dalam jangka menengah. Tetapi, pada 2026 dampak ramp up smelter tersebut kemungkinan masih terbatas karena fase awal biasanya ditandai dengan utilisasi yang belum penuh dan biaya operasional yang relatif tinggi.
Di sisi lain, transisi ke Fase 8 umumnya berkaitan dengan penurunan kadar bijih sementara dan peningkatan stripping ratio, sehingga berpotensi menekan margin laba AMMN pada awal fase tersebut. Artinya, sekalipun volume produksi mulai pulih, profitabilitas belum tentu langsung meningkat signifikan.
Namun dari sisi eksternal, AMMN masih bisa diuntungkan oleh potensi berlanjutnya tren kenaikan harga tembaga dan emas. Hal ini akan menjadi penopang utama EBITDA dan laba bersih sekaligus mengkompensasi tekanan dari sisi operasional.
“Dengan demikian, 2026 kemungkinan menjadi tahun transisi menuju normalisasi, bukan tahun peak earnings,” ujar dia, Jumat (27/3/2026).
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi menimpali, AMMN perlu memastikan stabilitas komersialisasi smelter tanpa adanya bottleneck ketika periode awal operasi setelah fase ramp up. Emiten ini juga mesti memperkuat kemampuan efisiensi biaya pengeluaran serta mempercepat ekstraksi komoditas di tambang Fase 8.
Menanti Kelanjutan Kebijakan Ekspor Konsentrat, Simak Rekomendasi Saham Amman (AMMN)
“Terkait ekspansi, AMMN tampak fokus pada optimalisasi utilitas aset baru seperti smelter dan pembangkit listrik ketimbang ekspansi anorganik atau akuisisi tambang baru dalam waktu dekat,” kata dia, Jumat (27/3/2026).
Di sisi lain, terdapat beberapa risiko bisnis yang patut diwaspadai oleh AMMN sepanjang 2025. Salah satunya adalah kendala teknis ketika fase operasional komersial smelter dijalankan secara penuh. Ancaman cuaca ekstrem juga bisa menghambat aktivitas tambang terbuka (open-pit) anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) tersebut.
Tak ketinggalan, AMMN perlu mewaspadai risiko pelemahan permintaan tembaga di pasar global, terutama jika pertumbuhan ekonomi China stagnan pada tahun ini.
Wafi pun merekomendasikan beli saham AMMN dengan target harga di level Rp 10.500 per saham.
Arinda menambahkan, dari segi operasional, risiko terbesar yang bisa menimpa AMMN pada tahun ini adalah keterlambatan atau penurunan performa dalam tahap ramp up smelter yang dapat membuat biaya membengkak tanpa dibarengi kontribusi pendapatan optimal. Di samping itu, risiko dari transisi tambang ke Fase 8 mencakup penurunan kadar bijih, gangguan produksi, serta potensi kenaikan biaya penambangan yang dapat menekan margin lebih lama dari perkiraan.
Lantas, Arinda merekomendasikan beli saham AMMN dengan target harga di level Rp 5.450 per saham.
Produksi Tambang Batu Hijau Menuju Normal, Pendapatan AMMN Diproyeksi Meningkat





