
Heyyoyo.com – Portal Teknologi, Review, Otomotif, Finansial Portal Teknologi, Review, Otomotif, Finansial – Lebaran akan tiba sebentar lagi. Menyambut momen spesial ini, biasanya masyarakat sudah menerima THR atau Tunjangan Hari Raya dari tempat kerja mereka.
Mengelola THR dengan bijak di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu seperti saat ini tentu akan menjadi tantangan tersendiri. Kendati demikian, manfaatnya akan sangat terasa bagi keuangan kamu.
Menyisihkan sebagian THR untuk investasi adalah salah satu langkah cerdas mengelola THR. Kamu bisa mulai dengan mengalokasikan 20%-30% THR untuk berinvestasi. Tidak perlu menunggu dana besar, karena saat ini berinvestasi bisa dimulai dengan modal minim, bahkan mulai dari Rp50.000.
Keuntungan menginvestasikan THR
Dengan berinvestasi, kamu bisa mengembangkan uang THR. Hasil investasinya dapat dipakai untuk berbagai kebutuhan di masa depan seperti dana darurat, dana pendidikan, hingga modal usaha.
Menyisihkan sebagian THR untuk investasi juga melatih kedisiplinan kamu dalam mengelola keuangan. Jangan tergoda memakainya untuk belanja impulsif di luar anggaran. Lakukan secara rutin setiap tahun untuk membangun pola finansial yang sehat.
Saat berinvestasi, kamu akan menerima imbal hasil per tahun. Jika imbal hasil ini tidak diambil dan diinvestasikan kembali, investasi akan semakin bertumbuh. Inilah yang dinamakan dengan efek compounding atau bunga berbunga/bunga majemuk.
Sebagai contoh, misalnya kamu menabung Rp1.000.000 dari THR dengan bunga 10% per tahun. Setiap tahun imbal hasilnya Rp100.000. Jika kamu mengambil imbal hasil tersebut setiap tahun, setelah 10 tahun total investasi menjadi Rp2.000.000.
Namun, jika kamu menambahkan imbal hasil Rp100.000 setiap tahun ke investasi awalnya, setelah 10 tahun dana investasi menjadi Rp2.593.742. Dengan efek bunga majemuk, di tahun ke-10 investasi kamu bertumbuh 2,6 kali dari modal awal. Sebaliknya, dengan bunga tunggal, investasi kamu hanya berkembang 2 kali lipat dari modal awal.
Investasi sesuai tujuan dan profil risiko
Berinvestasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Jangan sekadar ikut tren atau terpengaruh ajakan teman atau influencer.
Jika kamu termasuk investor konservatif, dapat memilih deposito, reksa dana pasar uang atau surat berharga negara (SBN) yang risikonya rendah namun memberikan imbal hasil stabil. Bagi investor moderat, dapat memilih reksa dana campuran karena imbal hasilnya lebih tinggi dengan risiko yang relatif terkendali.
Sementara itu, jika kamu terhitung tipe investor agresif yang berani mengambil risiko untuk imbal hasil tinggi, bisa mencoba berinvestasi di reksa dana saham, saham, atau bahkan mata uang kripto. Namun perlu diingat, sejalan dengan peluang keuntungannya yang tinggi, begitu pula dengan risiko kerugiannya.
Investasi yang dilakukan secara konsisten seringkali memberikan kinerja yang lebih baik ketimbang berspekulasi mengikuti pergerakan harga pasar. Contohnya dengan cara dollar cost averaging.
Dengan cara ini, kamu menyetor sejumlah nominal tetap ke instrumen investasi tertentu secara rutin dalam jadwal tetap. Keuntungannya, dalam jangka panjang biaya perolehan aset akan menjadi rata-rata. Kamu pun terbiasa berdisiplin berinvestasi dalam kondisi pasar apapun.
Salah satu pilihan berinvestasi adalah Tabungan e-mas dari Bank Syariah Indonesia (BSI). BSI adalah bank bullion atau bank emas pertama dan satu-satunya di Indonesia. Dengan adanya layanan bullion, BSI kini memiliki ekosistem emas yang terintegrasi mulai dari perdagangan emas, simpanan emas, cicil emas, gadai emas, hingga BSI Gold.
Investasi emas di BSI merupakan simpanan berbasis titipan (wadiah yad amanah) dengan saldo berupa gram emas. Investasinya sangat terjangkau karena dapat dimulai dari Rp. 50.000 atau setara dengan 0,02 gram emas yang dapat diakses melalui platform digital BYOND by BSI. Jadi, kamu bisa berinvestasi kapan saja dan di mana saja, tanpa batasan lokasi serta waktu.
Dengan Tabungan e-mas, kamu tidak repot menyimpan emas sendiri karena bisa dititipkan di lembaga tepercaya. Selain itu, keamanannya juga terjamin karena BSI merupakan bank yang diawasi oleh OJK.
Untuk memulai investasi emas di BSI, kamu harus sudah memiliki tabungan mudhrabah/wadiah dan melakukan aktivasi BYOND. Setelah itu, setoran awal minimalnya sebesar 0,02 gram emas dan saldo minimal di rekening e-mas sebesar 0,02 gram emas. Adapun rekening e-mas mengenakan biaya administrasi sebesar Rp24.000 per tahun.
Emas merupakan instrumen investasi safe haven dalam kondisi apapun. Selain memberikan perlindungan saat krisis ekonomi, emas juga menawarkan likuiditas tinggi. Harganya pun cenderung naik dan stabil dalam jangka panjang.
Jadikan momen Lebaran tahun ini sebagai langkah awal membangun fondasi masa depan, dengan memanfaatkan THR untuk berinvestasi e-mas di BSI.





